Sebuah perasaan dalam hati tidak pernah bisa tuk dipaksakan. Begitu juga dengan hatiku dan hatimu. Tetapi paling tidak hatiku lebih terbuka untuk menerima ini semua. Berbeda dengan hatimu yang penuh perhitungan, pemikiran, dan pertimbangan. Aku tidak menyalahkanmu. Itupun baik, sangat baik. Sebagai bentuk kehati-hatian dalam memilih pasangan.
Lalu bagaimana jika yang terjadi adalah kedua orang tuamu memilihku tuk menjadi pendamping hidupmu. Mereka sama denganmu. Sebelumnya belum pernah bertemu, apalagi mengenalku. Tetapi kedua orang tuamu begitu besar harapannya kita bisa bersatu membentuk sebuah rumah tangga bahagia di bawah cinta dan keridhoan kedua orang tua kita masing-masing.
Sebelum aku dipertemukan denganmu, hatiku sudah aku buka lebar-lebar untuk menerimamu. Dalam benakku waktu itu, aku tidak peduli siapa dirimu, latar belakang orang tuamu, kecantikanmu, kekayaan orang tuamu, dan yang lainnya. Yang ada dalam hatiku adalah sebuah niat yang mulia.
Kesediaanku untuk berkunjung ke rumahmu itu merupakan sebuah tanda aku menerima pilihan ini, pilihan kedua orang tuaku. Dan ketika aku ketemu denganmu malam itu, tidak ada terbersit rasa kecewa sedikitpun. Hatiku bicara "Ya Allah kalau memang ini jodohku, aku siap menjaganya".
Semua ini bukan kehendak orang tua kita. Tapi "mauNya Allah". Dia yang merencanakan pertemuan ini. Apakah akhirnya nanti kita akan bersatu atau tidak, hanya Dia yang tahu. Dan semua ini tidak akan pernah sia-sia. Pasti akan ada hikmah dibalik semua ini.
Meski kamu sangat susah diajak komunikasi, aku tidak menyalahkanmu. Aku yakin ini caraNya untuk menjaga hubungan kita. Agar tidak terlalu lepas kontrol. Karena kita bukan siapa-siapa. Dia jaga jarak kita agar tidak terlalu dekat. Allah juga cemburu jika kita terlalu dekat tanpa sebuah hubungan yang halal.
Meski demikian, sampai sejauh ini aku sangat menerimamu tanpa pikir panjang dengan modal restu mereka. Dengan pemikiranku semacam ini mungkin kamu menilaiku sebagai laki-laki yang gampangan. embuhlah.... apa salahku jika aku ingin membahagiakan ibu bapakku dan juga kedua orang tuamu yang begitu gigih ingin aku menjadi menantu mereka.
Ya... dalam hatiku sudah ada "rasa sesuatu" kepadamu. Jika ini kukatakan langsung kepadamu, aku yakin 99 % kamu takkan percaya begitu saja. Memang awalnya karena orang tua yang mempertemukan kita. Tapi jika di hatiku tidak ada perasaan apapun ke kamu, MUSTAHIL aku bolak balik silaturrohim ke rumahmu.
Ku kan menunggumu sampai kudapatkan kepastian darimu. Yes or No!
Ku kan menunggumu sampai hati ini bilang 'aku lelah".....
yus
sudah berakhir di 21022016
BalasHapus